Selasa, 22 Januari 2013

Ritual Menyambut 1 suro di Desa Srigading



Berbagai ritual dilakukan masyarakat Jawa dalam menyambut Satu Suro ( jawa : tanggap warsa). Salah satunya ritual yang digelar warga Samas, Desa Srigading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul. Ritual selalu digelar tiap tahunnya untuk mengenang Maheso Suro yang dipercaya telah mendatangkan kemakmuran warga di pesisir pantai selatan tersebut.
Satu Suro, adalah sebagai awal bulan pertama Tahun Baru Jawa, bertepatan dengan 1 Muharam. Kalender jawa pertama kali diterbitkan oleh Raja Mataram Sultan Agung Hanyokrokusumo 1940 tahun yang lalu, mengacu penanggalan Hijriyah (Islam). Di sejumlah daerah di Pulau Jawa, termasuk di Kabupaten Bantul, masyarakat Jawa masih tetap dijalani dengan laku atau lampah bathin dan prihatin.


Hikayat Maheso Suro
Dikisahkan oleh Sumarno, dahulu warga Samas dilanda paceklik, tanaman pertanian tidak bisa tumbuh subur. Warga desa selanjutnya memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Beberapa waktu kemudian warga Samas dikejutkan dengan munculnya seekor kerbau. Kerbau berwarna hitam kelam itu, oleh perangkat desa kemudian ditangkap dan dipelihara bersama kerbau-kerbau lokal.
Anehnya, setiap kali kerbau tiban itu merusak sawah ladang yang dilewatinya, tanaman di atas tanah-tanah itu justru tumbuh subur. Setelah beranak pinak, mahesa yang muncul pertama kali di Bulan Suro itu pun menghilang entah kemana.
Karena itu, masyarakat Samas, Srigading selalu mengenang datangnya kerbau hitam itu dengan menggelar ritual Kirab Tumuruning Maheso Suro sejak tahun 1910.
Labuhan Pisungsung Jalanidhi
Bulan Suro bagi warga Samas memang dianggap sakral. Selain ritual Kirab Tumuruning Maheso Suro, sejak beberapa tahun yang lalu nelayan di Pantai Samas menggelar prosesi Labuhan Pisungsung Jalanidhi. Sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan agar selalu diberi keselamatan selama melaut. Dilaksanakan bertepatan dengan hari Minggu Pon di Bulan Suro.
Prosesi diawali di halaman Bali Desa Srigading, dengan menyembelih seekor kerbau. Selanjutnya, kepala kerbau atau mustaka maheso beserta ubo rampe (sesaji) diarak menuju Pantai Samas. Iring-iringan kirab menempuh jarak sekitar 3 KM, diikuti peserta berpakaian tradisional dari berbagai elemen di Desa Srigading. Masyarakat yang menonton kirab menyambut dengan antusias, menjadi hiburan tersendiri bagi mereka.
Sesampainya di pesisir pantai, beberapa sesepuh setempat termasuk Mbah Jokasmo memanjatkan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dilanjutkan berbagai sesaji itu dimuat di kapal nelayan untuk dilabuh ke laut selatan.

Tulisan ini merupakan kumpulan yang pernah di  publikasikan oleh  Yan Arief Purwanto

di sini: